03
Mei
08

Peti Tenget

Pura dan Pantai Peti Tenget terletak di Banjar Batu Belig, Desa Adat Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara. Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor dari Kota Denpasar ke arah Barat kemudian ke Selatan yang jaraknya kurang lebih 10 km atau dari Kuta ke arah Utara menyusuri jalan raya Seminyak.

Pura Peti Tenget berdiri sekitar abad XV dan Pura tersebut adalah merupakan sepetak tegalan (sawah) yang bersemak belukar yang angker (dalam bahasa bali disebut tenget) karena dihuni oleh Bhuto Ijo yang membawa mandat dari Pedanda Sakti Wawu Rauh untuk mengamankan peti pecanangan beliau.

Alkisah pada saat itu Pedanda Sakti sedang berada di anjungan bukit selatan (Uluwatu sekarang) datang menghadap seorang masyarakat Kerobokan mohon belas kasihan beliau agar tanah tegalan (sawah) tersebut bisa dimanfaatkan masyarakat. Disarankan oleh beliau agar di tempat tersebut didirikan pelinggih penyungsungan Ida Bhatara Labuhan Masceti serta dibuatkan pula pegedongan untuk Bhuta Ijo sebagai tempat mengamankan dan menyelamatkan peti pecanangan Pedanda Wawu Rawuh. Kemudian mulai saat itu pura tersebut dinamakan Pura Peti Tenget.

Di sebelah Barat dari Pura Peti Tenget membentang pantai berpasir putih serta sering digunakan tamu untuk mandi dan berjemur. Pada sore hari pemandangannya menjadi begitu mempesona untuk menyaksikan matahari terbenam. Di sekitar lokasi tersedia areal parkir yang cukup luas, tempat penginapan serta tempat makan dan minum yang cukup banyak dan representatif.

03
Mei
08

Made’s Warung

Agenda perjalanan berlibur Anda selama di Bali akan terasa belum lengkap, bila Anda belum berkunjung ke Warung Made. Anda bisa menemukan berbagai masakan di Warung Made ini, dari yang khas Bali sampai masakan jenis International.

Warung Made ada di dua lokasi, yaitu di Jl. Pantai Kuta -letaknya sekitar 500 meter dari Hard Rock Cafe. Lalu satunya ada di Jl. Raya Seminyak, Bali.

Logo Warung MadeWarung yang dibuka sejak tahun 1969 ini setiap harinya selalu ramai. Konon, waktu Bali masih sepi ditempat ini hanya ada satu warung, yakni Warung Pak Made. Barangkali, itulah sebabnya tempat makan khas Bali ini sangat terkenal di mancanegara. Yang mana (mungkin) turis yang dulu pernah dating ke Bali, datang lagi untuk bernostalgia.

Yang Unik & Spesial dari Warung Made

· Restaurant yang desain ruangannya dibuat terbuka agar pengunjung juga bisa menikmati suasana di sekitar. Suasana khas Bali sangat terasa; bangku kayu, foto-foto sang pemilik warung dan sarung hitam-putih serta emas yang melingkari kayu-kayu peyangga warung memberikan kesan tersendiri bagi pengunjungnya.

· Rasa makanan di Warung Made bisa dibilang sangat khas. Makanan khas Pulau Dewata ini yang perlu Anda coba adalah Nasi Campur dan Tipat Tjantok. Tipat Tjantok, bentuknya mirip ketoprak, tapi rasanya lebih pedas.

· Menu yang sangat populer di restauran ini adalah Nasi Setengah Setengah, artinya; menu yang dicampur cuma setengah porsi-setengah porsi, misalnya: “1/2 nasi campur+1/2 gado-gado. Setengah porsi campurnya antara lain adalah campuran dari tempe yang digoreng kering, urap bali, potongan ayam bumbu bali yang setengah disuwir, potongan ikan, sambal bali, beberapa potong ikan asin kecil, dan potongan kecil daging. Rasanya sungguh khas dari Warung Made. Sedangan setengah porsi gado-gadonya adalah gado-gado campuran sayur dengan sedikit ketupat. Bukan gado-gado yang di Bali kadang dimasak mirip seperti memasak tumis sayur, tapi hampir sama dengan gado-gado di Jawa. Bumbu kacangnya masih terasa kental. Memakan Nasi Setengah Setengah ini adalah pilihan aman jika enggan melulu memakan nasi campur ala Bali. Apalagi kalau pelancong dari tanah Jawa yang sudah rindu makanan tradisional itu. Citarasa gado-gado yang sedikit manis bisa menetralisir rasa sedikit pedas dari campuran lauk ramesnya. Gado-gado dan lauk rames boleh dimakan bersamaan, boleh juga bergantian. Semua tergantung selera.
Konon, dulu menucampuran tersebut adalah campuran dari 3 menu, misalnya
: 1/3 nasi campur, 1/3 nasi goreng, dan 1/3 bakmi goreng.


Tapi kalau lebih ingin menikmati khasnya nasi Campur Warung Made, bolehlah memesan Menu Nasi Campur Spesial. Karena, menu dan rasa nasi campur ala Bali dari Warung Made ini memang khas dan agak berbeda dengan kebanyakan nasi campur Bali. Porsinya juga jauh lebih banyak dengan menu yang lebih lengkap. Di Nasi Campur Spesial, ada tambahan lauk berupa sate lilit, dan tumis. Kadang menu ini sepertinya diganti, mungkin utk membuat sedikit variasi. Tapi yang jelas, porsi dan jenis lauk Nasi Campur memang paling pas utk makan siang saat sedang lapar berat.

Sebagian besar menu makanan lokal di Warung Made kelebihannya adalah bisa dinikmati tamu mana pun. Tak terlalu pedas, juga tak terlalu manis. Mungkin karena mempertimbangkan para tamu yang sebagian besar justru warga negara asing, semua resep di Warung Made termasuk Nasi Campur ini juga sudah disesuaikan dengan lidah bule. Nggak seperti nasi campur bali pada umumnya yang berasa pedas dan lebih banyak lauk ayam yang dimasak aneka rupa (tapi tetap ayam).

· Untuk menu-menu local yang mungkin rada nggak lazim ditemukan di rumah makan Bali, diantaranya adalah soto ayam. Menu nikmat juga, sepertinya satu mangkok rasanya masih kurang.

· Bila Anda jenuh dengan makanan asli Indonesia, ada menu internasional juga. Untuk appetizer, tersedia Crab Avocado, Cream Chese and Bagel, Smoked Marlin, Thai Salad dan lain-lain. Sebagai menu utama, untuk Anda yang vegetarian ada Fungi Ala Made dan Tofu Burger. Ingin mencicipi daging Babi yang diolah menjadi makanan internasional? Silahkan coba Spare Ribs. Warung Made juga punya steak andalan, Steak Super Tender.

· Untuk pencuci mulut, Warung Made punya yang istimewa. Ada Brownies, Chocolate Mousse Cake, Marble Cheese Cake dan Cream Caramel. Aneka pudding dan cake yang resep aslinya dari berbagai negara itu, jangan ragu untuk dicoba. Cheese cake, salah satu dessert cake yang lumayan laris di sana.

· Sedangkan minuman, untuk suhu di Bali yang cukup panas, rasanya minuman dingin apa saja pas untuk menemani makan siang atau malam di sana. Warung dengan dua lantai ini juga menyediakan berbagai pilihan. Mulai dari juice, milk shakes, coktails hingga wines pun ada. “Ice Lemon tea” nya top banget. Perpaduan yang pas dan belum pernah gue temui di tempat lain; antara kadar teh, gula, dan jeruknya.


Bagi Anda yang Muslim, Anda perlu mencermati menu yang dihindangkan. Di Warung Made, disajikan beberapa menu yang mengandung babi. Misalnya Caesar Salad. Bagi yang belum tahu, Caesar salad biasanya dicampur dengan potongan ham atau potongan daging babi.


Malam Minggu adalah waktu yang sangat padat pengunjung, hindarilah waktu tersebut bila Anda ingin menikmati makan malam agak tenang . Sekiranya Anda memang ingin menikmati malam akhir pekan di sana, usahakan Anda datang lebih awal sebelum semua meja kursi terisi penuh. Sekalipun padat pengunjung, Warung ini tidak bising, sehingga Anda masih tetap bisa ngobrol.

02
Mei
08

Pura Besakih

Pura Besakih

Setiap orang Bali harus, sedikitnya sekali dalam satu tahun, berziarah ke Pura Besakih. Mereka menghormati tempat suci tersebut sebagai “pusar”nya dunia.

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Komplek Pura Besakih terdiri dari 18 Pura dan 1 Pura Utama. Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar, terbanyak bangunan-bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upacaranya dan merupakan pusat dan semua pura yang ada di Besakih. Di Pura Penataran Agung terdapat 3 arca utama Tri Murti Brahma (Dewa Pencipta), Wisnu (Dewa Pemelihara), dan Siwa (Dewa Pelebur).

Filosofi

Keberadaan fisik bangunan Pura Besakih, tidak sekedar menjadi tempat ibadah terbesar di pulau Bali, namun di dalamnya memiliki keterkaitan latar belakang dengan makna Gunung Agung. Sebuah gunung tertinggi di pulau Bali yang dipercaya sebagai arwah serta alam para Dewata. Sehingga tepatlah kalau di lereng Barat Daya Gunung Agung dibuat bangunan suci Pura Besakih yang bermakna filosofis.

Makna filosofis yang terkadung di Pura Besakih dalam perkembangannya mengandung unsur-unsur kebudayaan yang meliputi:

  1. Sistem pengetahuan,
  2. Peralatan hidup dan teknologi,
  3. Organisasi sosial kemasyarakatan,
  4. Mata pencaharian hidup,
  5. Sistem bahasa,
  6. Religi dan upacara, dan
  7. Kesenian.

Ketujuh unsur kebudayaan itu diwujudkan dalam wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan wujud budaya material. Hal ini sudah muncul baik pada masa pra-Hindu maupun masa Hindu yang sudah mengalami perkembangan melalui tahap mitis, tahap ontologi dan tahap fungsional.

Objek penelitian

Pura Besakih sebagai objek penelitian berkaitan dengan kehidupan sosial budaya masyarakat yang berada di Kabupaten Karangasem Provinsi Bali.

Berdasar sebuah penelitian, bangunan fisik Pura Besakih telah mengalami perkembangan dari kebudayaan pra-hindu dengan bukti peninggalan menhir, punden berundak-undak, arca, yang berkembang menjadi bangunan berupa meru, pelinggih, gedong, maupun padmasana sebagai hasil kebudayaan masa Hindu.

Latar belakang keberadaan bangunan fisik Pura Besakih di lereng Gunung Agung adalah sebagai tempat ibadah untuk menyembah Dewa yang dikonsepsikan gunung tersebut sebagai istana Dewa tertinggi.

Pada tahapan fungsional manusia Bali menemukan jati dirinya sebagai manusia homo religius dan mempunyai budaya yang bersifat sosial religius, bahwa kebudayaan yang menyangkut aktivitas kegiatan selalu dihubungkan dengan ajaran Agama Hindu.

Dalam budaya masyarakat Hindu Bali, ternyata makna Pura Besakih diidentifikasi sebagai bagian dari perkembangan budaya sosial masyarakat Bali dari mulai pra-Hindu yang banyak dipengaruhi oleh perubahan unsur-unsur budaya yang berkembang, sehingga mempengaruhi perubahan wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan wujud budaya material. Perubahan tersebut berkaitan dengan ajaran Tattwa yang menyangkut tentang konsep ketuhanan, ajaran Tata-susila yang mengatur bagaimana umat Hindu dalam bertingka laku, dan ajaran Upacara merupakan pengaturan dalam melakukan aktivitas ritual persembahan dari umat kepada TuhanNya, sehingga ketiga ajaran tersebut merupakan satu kesatuan dalam ajaran Agama Hindu di Bali.




Topik Tulisan

Arsip

Tamu Blog

  • 987 hits

Klik tertinggi

  • Tidak ada

Iklan: